Elegi Mega-Mega yang Menjingga

Image

Masih ada waktu.”

Ia membisikkan nyanyian satire ditelingaku karena ia tahu aku sedang meragu. Senyum di bibirnya membuatku lupa akan raya. Lupa sekejap kembali kalap. Kalap ke dalam masa silam.

“Apa daya waktu? toh jari kita tak pernah menyatu!” jawabku di telinga pria yang menjelma sebagai sosok yang sempurna. “Kita tidak akan berdiri di altar. Kau harus sadar. Biarkan aku pergi menikmati elegi. Elegi yang kaubuat setelah hatimu terbagi-bagi,” suaraku terdengar kaku dengan sajak yang baku.

Pahami teman, aku ini pembohong yang paling rawan. Hasratku sebenarnya ingin merengkuh tubuhnya, tapi garis antara kita bergeming tak ada nyawa. Hasratku ingin bersamanya, tapi takdir kita telah menguap di udara. Ia kembali meyakinkan aku dengan sejuta kalimat cinta nan picisan.  Ia merayu agar niatku bersamanya tidak sayu. Tangannya meraih jari-jariku, membawaku berjalan menikmati senja bersamanya.Sial! ia berhasil. Terang saja kekuatannya lebih kuat dariku. “Cukup kali ini saja,” pintaku. Ia berhasil membawaku. Toh, ini hanya sementara, besok hubungan kita pasti akan berjarak.

Ia kembali tersenyum. sepanjang jalan ia bercerita tentang hidupnya. “Aku ini pengaggum mimpi, aku telah berjalan seribu malam untuk mencari batu zamrud. Aku tahu itu hal yang absurd. Makanya aku berhenti mencari, aku letih berlari,” ucapnya tenang dengan senyum terkalang.

Aku hanya bisa diam. Sebenarnya aku ingin menghibur sekadar menepuk bahunya dengan lembut, tetapi nyaliku lebur. Aku memilih diam. Maaf pria yang menjelma sebagai masa laluku, kau tahu, kan, lidahku kelu didekatmu.

Kita semakin canggung. Ah, masa Bodoh! Biarkan aku menikmati mega-mega yang telah menjingga.  Kamu diam saja tak usah banyak bicara dan menduga. Rasakan angin senja sebagai hantaran doaku untukmu.

“Mimpimu itu tidak absurd, berjalanlah lebih jauh dan nikmatilah senandung hati dan alam yang saling memagut,” bisikku kepada angin untuk pria sempurna di sebelahku. Aku berharap ia dapat merasakan angin. Merasakan sentuhan lembut suaraku. Suara batin yang dikirim oleh  Angin  sebagai penghantar doa untuknya. Semoga.

Terimakasih untuk pria bermata cokelat. Semoga kita memiliki irama yang indah walau tidak bersama…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s